Halaman

73

        “ Seperti kebanyakan orang tua dulu, keluarga kami dikaruniai banyak keturunan. Kami kakak beradik tujuh orang. Ditengah keterbatasan materi, orang tua kami berhasil mendidik anak anaknya sehingga semua menjadi sarjana. Hanya berbekal gaji PNS yang tidak seberapa waktu itu. Kadang mereka menjual apa saja yang bisa dijual, berutang ke sana kemari agar anak anak bisa tetap bersekolah. Dan Alhamdulillah, tujuh orang anak anaknya berhasil menjadi sarjana. “ Suasana senyap. Hadirin masih ingin mendengarkan.
     “ Saya masih ingat betapa bersahajanya kami hidup dulu. Pernah suatu ketika kami hanya punya sepotong ikan peda. Sepotong ikan itu kami potong potong sehingga semua anggota keluarga bisa makan saat itu. Kami sering melewati saat saat sulit. Mungkin kesulitan kesulitan yang kami alami membekas dalam hati setiap anak, terutama untuk anak pertama seperti saya. Sejak saat itu saya bertekad apabila saya sudah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, maka saya akan membalas dendam akan membeli apa saja yang bisa dibeli, dan makan apa saja yang bisa dimakan. Sebuah dendam yang salah dan berakibat fatal. “ suara hadirin mulai berdengung.
     “ Sejak saya mempunyai penghasilan sendiri, sejak itu pula saya mulai berpestapora. Kebiasaan yang terus berlanjut sampai berkeluarga. Lemari es kami dipenuhi makanan makanan yang memanjakan perut. Bahkan yang sebenarnya tidak berguna dan membahayakan kesehatan keluarga. Kami mulai seperti maniak kuliner yang berkeliling dari satu gerai ke gerai lainnya hanya untuk melampiaskan nafsu memuaskan lidah. Sampai akhirnya sebuah tes darah menghentikan saya. Saya bersyukur, Tuhan telah bertindak lebih awal  “ sejenak kuberhenti.
      “ Lho, kenapa harus bersyukur? “ aku melanjutkan agak sedikit ngabodor. “ kebayang, kan jika saya datang dengan gula darah 800, waaahhhh….bisa langsung game point tuh….. “ mereka melanjutkan tertawa sopan bahkan sebagian ada yang bertepuk riuh.
     “ Baiklah ini yang lebih serius. Tuhan kelihatannya masih sayang kepada si pendosa ini. Dipaksanya saya datang ke rumah sakit walau diembel embeli operasi usus buntu. Dan begitulah, akhirnya saya dioperasi. Makasih dok “ kataku sambil membungkuk ke dokter bedah. Dokter balas mengangguk.
     “ Terima kasih juga dok “ kali ini aku membungkuk ke arah dr. Shanti yang menbalas dengan senyum kecilnya.
     Seorang hadirin nampak mengacungkan tangannya. Oh, itu Ayah Asep. “ Bagaimana rasanya dioperasi? “ tanyanya. Hadirin yang lain mengiyakan pingin tahu juga.

74

      Aku agak tercenung sejenak. Kemudian “ sebenarnya ngak ada rasanya. Saya tak merasakan apapun ketika operasi. Atau mengalami atau membayangkan apapun selama operasi “ sambil sekilas melirik Haji Endang Sadani.
     “ Ooohhh “ serempak hadirin ber-oh ria. Para suster hanya musam mesem saja.
     “ Saya lanjutkan. Justru hari hari setelah operasi adalah hari hari yang…. penuh dengan penderitaan. “ Lagi lagi mukaku tersenyum ke arah dokter bedah, yang dibalas dengan senyuman pula.
     “ Lima hari setelah operasi, saya saya benar benar puasa total. 1 X 24 jam. Tidak minum, apalagi makan. Kehidupan saya hanya tergantung pada seutas selang infus. Ohhh, Betapa rapuhnya sebenarnya kehidupan kita. “ suasana berubah senyap. Orang orang lebih serius mendengarkan.
      “ Dan pada saat saat itulah kita memohon mohon pertolongan Tuhan. Kita minta ini, kita minta itu, padahal kemana saja kita ketika sehat? “ suaraku meninggi bergaung di balairung.
     “ Di saat yang sama kita meratap ratap mengapa musibah ini harus menimpa kami. Apa dosa saya? itu tanya kita seolah olah tak punya dosa. Betapa memalukan sebenarnya kelakuan kita ini. Tapi Tuhan masih berbaik hati dengan menjawab : Ini bukan musibah hambaKu, ini rahmatKu juga. “
      Pak pendeta mengangguk angguk.
    “ Tapi lagi lagi kita berbantah. Kenapa harus saya yang menerimanya, kenapa bukan orang lain? Akhirnya saya mendapatkan – syukurlah – jawaban atas semua ini. Selama sebelas hari ini saya diberi penglihatan. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan Tante Jessy dan Haji Alih “ Kedua orang yang disebut berdiri memberi hormat kepada para hadirin.
     “ Mereka telah menunjukan kesederhanaan Tuhan. Hal hal kecil yang dilakukan dengan tulus membawa mereka pada surgaNya. Amin “ hadirin bertepuk tangan menghormati kedua orang tadi. Kedua orang tadi duduk kembali.
     “ Hal kedua adalah keluarga. Selama sebelas hari keluarga adalah orang paling dekat yang mendampingi – lebih tepat – melayani kita nyaris 24 jam. Mereka ikut menderita. Tapi mereka melakukannya dengan tulus, tanpa mengeluh. Adakah lagi yang lebih indah dari pada indahnya persaudaraan yang dibangun dengan tulus? “  semua orang rasanya ‘ terpukau’ dengan retorikaku.
     “ Baru saya mengerti kenapa nabi kita begitu datang ke Madinah maka  hal pertama yang dilakukannya adalah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor. “ Suaraku agak bergetar. Kini nabi ku bawa bawa. Sebagian hadirin matanya mulai berkaca kaca.

75

       “ Tiada yang lebih membahagiakan bagi si sakit, ketika sahabat sahabat datang menjenguk. Baru terasa, bersahabat jauh lebih berarti ketimbang berselisih. Saya merasakannya hadirin. Diri ini merasakannya! Demi Allah! “ Rasanya aku mulai habis habisan. “ Dan... “ aku memainkan tempo “ Ditengah kehausan dan suntikan suntikan yang harus saya terima setiap hari, seorang suster datang membawakan kisah. “      
     Aku menyetop dulu kalimat biar efek penasaran mulai terbentuk.
    “ Dia bertutur…. membawa saya ke masa depan, untuk menjenguk seorang cicit yang dengan ikhlas mengorbankan masa mudanya untuk merawat sang ibu yang kena stroke. Malu saya, karena diri ini tak mungkin mau melakukan hal serupa itu. “ aku mengakhiri kata kata terakhir dengan menggeleng geleng kepala tanda penyesalan. suara bisik bisik mendengung untuk mencari tahu siapa suster dimaksud, siapa pula cicit yang dimaksud. Ada juga hadirin yang mulai tersedu.
     “ Aduhai, apakah jaman akan kembali melahirkan anak anak yang sedemikian berbaktinya kepada sang bunda? oh, jaman, tidakkah kau dengar? “ nadaku melengking. Aku nyaris berpuisi sekarang. Orang orang terhenyak.
     “ Tuhan, Tuhan, jadikanlah anak cucu kami orang orang yang berguna untuk sesamanya, Tuhan! “ aku melolong, meratap, seperti da’i yang sedang bertausiyah. Balairung menjadi sunyi. Senyap yang panjang.
     Perlahan kuturunkan suaraku “ marilah kita berdo’a untuk cucu kita. Semoga kehidupan mereka jauh lebih bernas dan bersahaja “
     “ Amin “ serentak hadirin menimpali. Balairung kembali sepi.
    “ Terima kasih saya untuk orang tua… “ Aku tak sanggup melanjutkan. Aku hanya bisa terpaku menatap wajah tua mereka. Menahan emosi tidaklah mudah. Ditambah sebagian hadirin sudah mulai sesegukkan.
     Aku menghirup nafas panjang. Harus kuselesaikan pidato ini. Suaraku agak serak serak sekarang.
     “ Terima kasih juga saya haturkan untuk para karuhun yang telah sudi menerima kedatangan kami. Kini kita tahu, sejarah mereka tidak melulu kisah peperangan. Banyak hal hal mulia yang telah mereka kerjakan. Kita bukan saja mewarisi darah yang mengalir dari mereka, namun juga mewarisi kesalahan kesalahan mereka untuk tidak mengulanginya lagi, selagi kita mau belajar “ Dua orang ksatria karuhunku berdiri dan menyidekapkan tangannya memberi hormat.
     “ Untuk cucu dan cicitku “ lagi lagi aku harus menahan emosi. “ maafkan kakek. Kakek bukanlah kakek yang sempurna untuk kalian. Terima kasih kepada kalian yang telah mengajariku bagaimana seharusnya bersikap kepada orang tua. Entah dari mana kalian mendapatkan kebijaksanaan semulia itu “  Seruni menitikkan air mata, Laila, seperti ku tebak, tetap tegar, wajahnya tidak berubah.

76

        “ Dan akhirnya kepada keluarga, istri dan anak anakku. Aku takkan berpanjang kata. Terima kasih. Terima kasih. “ aku menguat nguatkan diri. Lama terdiam. Bagaimanapun pidato harus ditutup. Perlahan lahan aku berkata…
     “ Dan terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah bekerja keras menyelenggarakan acara jamuan ini. Nikmatilah malam ini saudaraku saudaraku. Esok hari kita harus kembali bekerja. Masyarakat membutuhkan kita. Bangsa yang besar membutuhkan lebih banyak lagi pahlawan. Hidup Indonesia! Merdeka! Merdeka! Merdeka! Wassalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh! “ Tiba tiba saja pengawal di belakangku menyematkan peci hitam, kaca mata hitam, pangkat warna warni di sakuku, dan menggepitkan sebuah tongkat komando di tangan kiriku. Bagai Bung Karno aku mengacung acungkan tangan terkepal setinggi tingginya. Tepuk tangan, standing applause, membahana memenuhi ruangan. Ada sekitar lima menit mereka tak beranjak.
     Masih dengan tongkat komando aku dikawal berkeliling menyalami hadirin satu persatu. Suasana riuh rendah dengan teriakan yel yel revolusi. Kertas perak warna warni ditaburkan mengikuti kemana aku melangkah. Samar samar Fredie Mercury melantunkan we are the champion. Ah, Penyerahan piala liga champion-pun masih kalah seru dengan apa yang kualami saat ini. Ku baca salah satu spanduk yang dipasang di dinding: SELAMAT DATANG KEMBALI PADUKA YANG MULIA.

                                                         *****

     Setelah selebrasi ala Bung Karno itu, yang pertama ku datangi adalah kedua orang tuaku dan kedua orang mertuaku. Kupeluk dan kucium tangan mereka. Berikutnya adalah istri dan anak anakku.
     Kemudian….. Laila dan Seruni. Kami seperti melakukan reuni kecil keluarga. Ki Mindakalangan dan Ki Cakrabuana turut bergabung. Entahlah rasanya seperti saat itu. Benar benar campur aduk.
     Musik mulai dimainkan lagi. Ternyata kini alunan degungan. Siapa yang punya ide musiknya degungan? Hidangan mulai disajikan. Pelayan berseragam hitam putih dengan dasi kupu kupu hilir mudik menghidangkan sajian jamuan.
     Pendeta advent datang ke kerumunan ku dengan seorang nenek. Apa kabar saudaraku katanya. Aku merangkulnya hangat.
     “ Perkenalkan, ini nenek Angpau “ katanya riang. Aku mencium tangan nenek angpau layaknya santri mencium tangan pak kiai. “ Beliau ini ketua panitia jamuan malam ini “ tambahnya bangga. Aku semakin hormat pada nenek itu.

77

     Di luar dugaan Ki Cakrabuana dan Ki Mindakalangan ternyata mudah melebur dengan nenek Angpau. Rupanya di jaman beliau, berinteraksi dengan orang China daratan adalah hal yang biasa dilakukan. Selain dengan orang portugis, hubungan dagang dengan negeri Tiongkok sudah berlangsung sejak lama. Kadang obrolan mereka diselingi cing co le ah yang aku sendiri ngak ngerti.
     Suasana lebih cair dan rileks sekarang. Denting suara alat alat makan mulai terdengar. Canda dan ketawa ketiwi mulai ramai saling bersahutan. Malam ini bakal menjadi malam yang panjang. Anak anak Ciomprang sudah mengeluarkan bola plastik dan mendemostrasikan mengolah si kulit bundar di hadapan para perawat.
     Sementara teman teman kantorku sudah minta panitia agar mengganti musik dengan organ tunggal saja. Biduannya sudah dipersiapkan, ada dari mereka katanya. Oh, ternyata provokatornya adalah kang Diro, pemborong nyentrik itu.  Sementara Hardy terlihat paling depan siap berjoget. Nampaknya dia sudah lupa dengan urusan dukun perdukunan.
     Para ibu ibu dari komunitas prana mulai dengan hobi narsis mereka. Berbekal HP kamera, mereka foto sana, foto sini, langsung di up load mengubah status FB mereka.  Benar benar pesta habis habisan. Everybody happy now. Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang paling dikenang dalam hidupku.
                                     *****
       HP tiga malaikat itu secara serempak berdering menerima SMS dari Bos. Isinya berintikan rencana untuk menjemput pasien langsung dengan dua malaikat dari divisi Pencabut Nyawa, tempat Azroil bernaung. Waktunya: beberapa menit kemudian.
     Mereka panik dan bergegas berkumpul di ruang monitor. Beberapa saat yang lalu monitor masih menunjukan suasana jamuan yang meriah. Mereka memutuskan untuk pergi ke kantin melepas lelah. Tiba tiba pesan maut itu memaksa mereka kembali ke markas. Tampak suasana pesta masih berlangsung di layar monitor. Kontras dengan rencana penjemputan yang akan berlangsung beberapa menit lagi.
     “ Apakah ini akhir dari nasib orang ini? “ kali ini tampang ‘Atib lebih serius lagi, tepatnya serius dan tegang.
     Kedua rekannya sibuk dengan layar monitor masing masing. Roqib sibuk dengan program prediksi. Jemarinya sibuk mengetik ngetik tombol keyboard hingga menimbulkan suara berdetak detak. Dia mengkalkulasi seluruh amalan dan kemungkinan safaat, dan bonus bonus amalan lainnya. Apakah klien mereka berpeluang masuk surga. Jawabannya: blank!
     Azroil memprediksi model penjemputan apa saja yang akan dipertunjukkan Tuhan kali ini. Tidak ada jawaban memuaskan. Tuhan telah membikin ini jadi rahasia.

78

      Yang ditakutkan adalah kemungkinan kematian mendadak...
     “ Apakah ini berarti hampir pasti orang ini akan di Off hari ini juga? “ Roqib bertanya nyaris berteriak. Mukanya penuh dengan peluh.
     “ Belum tentu! Belum tentu! Ada berbagai kemungkinan yang mungkin akan dilalui orang itu! “ jawab Azroil tak kalah berteriak.
     “ Maksudmu? “ teriak ‘Atib nyaris tak terdengar.
     “ Ada kemungkinan Tuhan akan mengirimnya ke dimensi penentuan…” balas Azroil.
     “ Dimensi pen… apa itu? “  Roqib tergagap.
     “ Diam semua, liputan langsung penjemputan sudah masuk di layar monitor!...”
     Dalam upaya terakhirnya, Joe Righ berusaha menyelundupkan virus kedalam apapun model penjemputan yang terjadi. Ia akan menjadi semacam gangguan yang manis menggiring kepergian si pasien. Virus ini akan menggiring imajinasi pasien dalam lorong lorong dan pusaran gelap. Suara suara yang mengerikan juga telah diprogram. Setidaknya ia mengharap ketabahan pasien akan terkikis dan rasa frustrasi yang mendalam akan menderanya.
     Dia mengusap peluh yang membasahi wajahnya.

                                                                                  *****

     Aku minta ijin untuk sebentar pamit menuju kamarku. Aku minta Seruni menemaniku.
    Kami sekarang berada di kamar. Masih terdengar sayup sayup suara musik dan ramai suara orang. Aku membuka jendela, dan berdiri dia atas balkon. Seruni mengikuti. Udara luar terasa menyegarkan. Entah dimana ini, dan di jaman apa, aku sudah tak berani menanyakan. Nikmati saja. Apalagi di sisiku ada Seruni.
     Tangan seruni melingkar di pinggangku. Lembut dan hangat. Ku belai lambutnya.
     “ Kakek punya firasat sebentar lagi kita akan berpisah, sayang “ kataku perlahan.
   “ Ngak apa apa, kek. Nikmati saja selagi kita bisa “ jawabnya. Aku mengangguk. Jadi inilah ujung perjalanan ini. Luar biasa. Berpisah diiringi kekasih tercinta. Kucium rambutnya. Inilah wangi yang kelak akan selalu kurindukan.
     Dari cakrawala kulihat dua malaikat  mengepakkan sayapnya, makin lama makin dekat. Akhirnya mereka sampai ditepi balkon. Mereka mengapung di hadapanku. Kepakan sayapnya lembut berirama. Tangannya terentang menyambutku. Senyum mengembang di bibirnya.
    Aku melirik ke wajah Seruni, meminta persetujuan. Dia mengangguk pelan. Perlahan kulepas pelukannya. Tanganku menyambut tangan malaikat. Tubuhku mulai terbang digapit dua malaikat. Tak sedetikpun pandanganku ku lepas dari Seruni. Air mata menitik tak tertahan. Seruni makin lama kelihatan makin jauh.


TAMAT
Sangat mengasyikkan..... maju terus, pantang mundur!
( H. Karnato Atmdja, Bapak saya )

Profesionalisme.


Buku hasil revisi telah diterima. Hasilnya seperti yang terlihat di photo. Hasilnya memang lebih baik. Komentar yang terlintas di kepala? Dituntut lebih dari itu untuk berhasil. Nampaknya dibutuhkan profesionalisme yang lebih untuk berhasil dibidang ini. ada yang bisa bantu?

Setelah dipikir pikir.....

Setelah dipikir pikir, saya memutuskan untuk mengubah tampilan cover novel 11 Hari Usus Buntu menjadi seperti diatas. Lebih garang bukan? lebih progresif, mudah mudahan lebih menarik perhatian. Jadinya kembali kita mengunggah ulang konsep desain novel ini ke nulisbuku.com. Nunggu lagi 10 hari ke depan. Sabar. Sabar. Pas banget, bukankah esok hari kita mulai berpuasa satu bulan penuh? selamat berpuasa, selamat bersabar.

Tampilan cover baru.

Cover lama.


Akhirnyaaaa !!!!!!


Ya, akhirnya datang juga yang dinanti. Novel itu telah tiba hari ini. Terima kasih nulisbuku.com. komentar spontan : wow! unbelieveble. Nyaris tak percaya. Sepertinya semesta berhenti untuk sejenak. Panasnya kemarau di Sukabumi terasa adem. Sementara ini saya ingin menyendiri menikmati bayi yang baru lahir ini. Masih tujuh bulan lagi menunggu bayi sungguhan lahir dari rahim Paramesywari. Semangkuk sup panas daging kambing cukup untuk merayakan momen ini ( thanks, Don ). 

Kampanye !


     Kampanye ! ya kampanye. Setiap produk memang harus dikampanyekan agar menjangkau sebanyak mungkin pasarnya. Blog ini dibuat untuk mengkampanyekan novel '11 Hari Usus Buntu '. Novel ini mulai dikerjakan awal tahun 2012 beberapa saat setelah penulis mengalami operasi usus buntu yang kebilang besar. 12 cm sayatan yang kemudian diabadikan sebagai cover buku ini.

     Awalnya tulisan pengalaman selama menjadi pasien operasi hanya dimaksudkan menjadi semacam pengingat-ingat betapa pengalaman medis itu menjadi pengalaman spiritual yang mudah mudahan mencerahkan. Namun sejak bab pertama berhasil ditulis, maka segera saja keranjingan menulis mulai merasuki. Hingga akhirnya tak terasa berakhir pada halaman 200 dengan ukuran kertas A4.

     Betul bahwa faktor kebetulan mewarnai penerbitan buku ini. Yang saya ingat adalah waktu itu suatu malam yang melelahkan setelah bekerja sampai larut di Palabuhanratu. Menjelang tidur saya masih sempat menyalakan televisi yang percis menayangkan talk show TV One dengan guest nulisbuku.com. Nah mengapa tidak saya terbitkan novel ini lewat situs itu?

     Dan begitulah, ketika blog ini dibuat, saya sedang menunggu proses 10 hari moderasi novel ini oleh pihak nulisbuku.com.

     Sampai disini dulu persentuhan kita kali ini. Mudah mudahan kabar baik menunggu di pekan depan.